Showing posts with label Kaligrafi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Kaligrafi Indonesia. Show all posts

Tuesday, December 10, 2013

Saatnya UKM Go Online!



Mungkin saat ini toko kita baik-baik saja. Pembeli datang terus-menerus dari waktu ke waktu, dan kita tidak merasakan perlunya membuka lapak di dunia maya. Keputusan tentu saja ada di tangan Anda. Tetapi saya merasa perlu untuk menyampaikan bahwa bukan hanya perekonomian Indonesia terus bertumbuh tinggi dari waktu ke waktu, jumlah pengguna internetnya pun mengalami pertumbuhan yang kencang.

Kalau sekarang ini jumlah pengakses internet di Indonesia tercatat mencapai 63 juta jiwa atau 24,23 persen penduduk, jumlah ini hanya akan terus bertambah dengan pesat. Di akhir tahun 2013, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia memproyeksikan jumlahnya sudah bertambah hingga 82 juta, kemudian menjadi 107 juta pada 2014, dan 139 juta pada 2015.




Meski pertumbuhan pengguna internet Asia Pasifik terbilang tinggi di dunia, angka pertumbuhan Indonesia masih lebih fenomenal dari pertumbuhan negara-negara Asia Pasifik ini jika dirata-ratakan. Pada tahun 2012 silam saja pertumbuhan pengguna internet Indonesia mencapai 48% sementara keseluruhan Asia Pasifik tak sampai separuhnya, yakni 18%.

Namun alasan memikat untuk Anda membuka bisnis OL tidak hanya pertumbuhan ekonomi, penduduk, serta jumlah pengguna internet di Indonesia saja. Berbeda dengan Amerika Serikat, Eropa, maupun China, Indonesia adalah negara kepulauan. Kendala melebarkan sayap usaha darat di Indonesia lebih besar dibandingkan di negara-negara daratan tersebut. Tapi dengan internet sebagai medium komunikasi yang lebih cepat dari kedipan mata, kendala itu memungkinkan untuk diatasi. Anda tidak perlu membuka toko langsung, misal, di Pekanbaru, Palembang, Ambon, dan lain-lain. Cukup konsentrasikan diri Anda untuk membesarkan toko online Anda. Bila Anda cukup besar, orang-orang dari seluruh Indonesia melalui alat pencari Google akan mencari Anda dengan sendirinya. Saat Anda menyadarinya, Anda sudah mengirimkan produk-produk Anda ke berbagai penjuru Indonesia.

Tentu saja, tak lupa, memulai usaha online juga memiliki sejumlah keuntungan langsung yang sifatnya memudahkan Anda. Misal, Anda bisa mempromosikan usaha Anda tanpa memerlukan baliho atau berbagai macam perangkat promosi darat yang butuh biaya. Cukup buat akun Twitter, Facebook lalu sebarkan link produk Anda ke antara pengguna atau komunitas-komunitas yang kira-kira membutuhkannya. Anda pun memiliki toko yang dapat dilihat-lihat selama 24 jam tanpa perlu menyewa pramuniaga.
Tertarik?

Kalau tertarik, pertanyaan selanjutnya yang mungkin tercetus, bukankah mendirikan toko online ribet—butuh menyewa programer dan lain sebagainya? Tidak. Jauh dari ribet, bisa saya katakan. Contoh: Anda dapat melakukannya cukup dengan mendaftar di sebuah toko online seperti TokoOn  yang memang diperuntukkan untuk UKM lokal. Caranya pun sederhana, seperti mendaftar email (semoga Anda sudah mempunyai email, ya, kalau tidak bisa beneran repot, hehehe).

Sesudah terdaftar, selamat. Anda sudah memiliki toko online. Mudah kan ternyata? Dari sini, Anda tinggal memastikan produk-produk Anda senantiasa ter-update, upload foto produk, tulis deskripsi produk Anda untuk membantu para pencari produk, dan promosikan link produk Anda di media-media sosial. Lakukan dengan baik, karena hal sederhana ini nantinya akan mendatangkan manfaat untuk Anda.



Wednesday, November 27, 2013

Sejarah Kaligrafi Islam



Kalau mendengar kata ‘kaligrafi’ , pasti langsung terbayang seni tulisan indah ala Arab. Akan tetapi, kaligrafi bukan hanya dikenal sebagai salah satu kebudayaan Arab, tapi juga kebudayaan Jepang, China, maupun Yunani. Hanya saja kaligrafi Arab memang lebih terkenal di sini karena Indonesia mayoritas penduduknya muslim.



Dalam seni rupa Islam, kaligrafi biasanya dibuat untuk memvisualisasikan keindahan ayat-ayat Al-Quran. Bentuknya pun beragam, tidak selalu berupa guratan pena di atas kertas, tetapi juga ditatahkan di atas logam atau kulit. Salah satu bentuk penerapan kaligrafi Islam sebagai seni hias ada di Istana Alhambra , Spanyol.



Di Indonesia sendiri, kaligrafi juga dibuat dalam berbagai macam kreasi. Salah satunya ada kaligrafi Arab Kayu yang diukir di atas kayu, bisa dari kayu jati, mahoni, maupun kayu lainnya. Kaligrafi ini diukir oleh masyarakat Jepara dengan presisi yang cukup tinggi. Kaligrafi Indonesia biasanya memuat lafaz Allah atau Muhammad, Ayat Kursi , Ayat Seribu Dinar, Asmaul Husna, dan surah-surah Al-Quran.



Walaupun kaligrafi dikenal mengagumkan, bangsa Arab pada zaman dulu lebih bangga dengan lisan yang pandai bersyair dibanding tulisan indah. Karenanya, kebudayaan menulis sangat minim dilakukan. Kalau pun ada syair yang sangat indah, itu pun baru akan ditulis kalau ingin digantungkan pada Ka’bah. Al-Quran hanya disimpan di dalam memori dan baru ditulis dalam bentuk kitab setelah banyak hafiz atau penghafal Quran yang wafat di medan pertempuran. Hingga kemudian baru dimulai penulisan Al-Quran pada masa khalifah Abu Bakr Ash Shidiq dan mulai disusun rapi pada masa khalifah Utsman bin Affan.

Meski aksara Arab diperkirakan sudah muncul satu abad sebelum Islam datang, tapi kaligrafi baru muncul pada abad kedua dan ketiga Hijriyah. Tidak heran jika pada generasi awal Islam, kaligrafi bukan menjadi sesuatu yang diperhatikan. Meskipun perkembangannya terbilang lambat, kaligrafi akhirnya mulai mendapat tempat di hati masyarakat muslim dan mendapat tempat tersendiri dalam kesenian Islam karena bertujuan memperindah lafaz Allah. Bahkan pada tahap berikutnya, kaligrafi sepenuhnya menjadi karya seni Islam dan membawa pengaruh pada seni lukis.



Lebih jauh lagi, Habibullah Fadzoili dalam Athlasul Khat wa al-Kutub membagi 6 periode perkembangan kaligrafi, yakni:

Pertama, era pertumbuhan saat huruf Arab belum memiliki tanda baca. Gaya kufi (gaya tulisan yang kaku dan sangat formal) muncul periode ini.

Kedua, periode ini baru dimulai saat kekhalifahan Bani Umayah, di mana kaligrafi mulai berkembang lebih indah. Kaligrafi dengan gaya yang lebih luwes dan lebih ornamental seperti gaya tsuluts, naskhi, muhaqqaq, raihani, riq’I, dan tauqi’ muncul pada periode yang berlangsung hingga pertengahan kepemimpinan Dinasti Abbasiyah ini.

Ketiga, periode penyempurnaan, pengembangan metode dan juga standardisasi kaligrafi. Gaya-gaya sebelumnya mulai dimodifikasi dan diberi kaidah sesuai ketentuan yang sudah dibuat oleh para ahli.

Keempat, pengembangan kaidah dan metode pada era sebelumnya. Dalam periode ini mulai muncul harmonisasi dua gaya dalam satu kanvas.

Kelima, masuk periode pengolahan, di mana pengembangan teknik lebih mendapat penekanan dan ratusan gaya berhasil diciptakan para ahli kaligrafi.

Keenam, masa di mana Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir dan Dinasti Safawi berkuasa di Persia. Pengembangan gaya terus terjadi pada periode ini hingga mencapai puncak saat periode Turki Utsmani.

Saat Dinasti Abbasiyah runtuh akibat serangan Mongol, perkembangan kaligrafi justru makin memuncak. Apalagi dengan keberadaan ahli kaligrafi ternama, Yaqut, menjadikan Dinasti Mongol sebagai penganut Islam. Saat itulah kaligrafi mengalami perkembangan di negeri Islam Timur, terutama saat Mongol berada di bawah kepemimpinan Ghazan dan Uljaytu, yang kemudian menjadi era kemajuan seni dan sastra. Pada masa inilah perkembangan kaligrafi mencapai puncaknya.

Setelah berakhirnya generasi Mongol pada abad ke-14, kaligrafi masih populer di bawah kekuasan Dinasti Timurid yang dipimpin Timur Leng. Beliau menciptakan gaya baru kaligrafi untuk penulisan Al-Quran, menggantikan gaya Mongol dengan pola megah dan geometris.

Sekian tulisan saya mengenai sejarah kaligrafi Islam. Panjang juga ya sejarahnya? Butuh waktu untuk membaca memang, tapi semoga bermanfaat terutama bagi yang tertarik dengan karya seni yang satu ini.