Thursday, September 26, 2013

Kerupuk Indonesia Terbang ke Mancanegara

Penduduk Indonesia mana yang tidak mengenal makanan bernama ‘kerupuk’? Suka atau tidak suka, makanan yang terbuat dari adonan tepung tapioka ini memiliki rasa yang sangat familiar di Indonesia. Biasanya kerupuk adalah makanan pelengkap nasi goreng, gado-gado, soto atau makanan lainnya. Namun tidak jarang pula, kerupuk menjadi makanan ringan yang biasa dicemil saat bekerja, menonton TV, atau aktivitas lainnya.

Sebagai surga kerupuk, beragamnya daerah di Indonesia membuat kerupuk di setiap daerah menjadi sangat bervariasi. Mulai dari kerupuk yang diciptakan dari kerang bernama ‘Kerupuk Gonggong’ di Kepulauan Riau, kerupuk ikan, kerupuk udang, kerupuk jengkol, kerupuk kulit sapi dari Padang, sampai kerupuk Palembang. Hampir semua jenis kerupuk tersebut populer di daerahnya masing-masing. Namun jika dibandingkan dengan kerupuk-kerupuk khas daerah lainnya, kerupuk kulit, kerupuk udang, dan kerupuk ikan memang lebih mudah ditemukan.


Pada dasarnya pembuatan setiap jenis kerupuk tidak jauh berbeda. Umumnya kerupuk diciptakan dari adonan tepung tapioka yang dicampur dengan udang, ikan, jengkol, atau beberapa bahan lainnya yang sudah ditumbuk halus. Namun hal itu tidak berlaku bagi kerupuk kulit, karena kerupuk kulit tidak menggunakan tepung tapioka dan hanya dibuat dari kulit sapi yang sudah dikeringkan. Biasanya kerupuk dijual dalam bentuk ‘belum digoreng’. Namun untuk kerupuk-kerupuk yang cara dan proses penggorengannya sulit, biasanya dijual dalam kemasan untuk langsung dimakan. Dari bahan yang sederhana nan murah itu, ternyata dapat menghasilkan sebuah makanan dengan rasa yang gurih dan krenyes-krenyes ketika dimakan.

Siapa sangka? Rasa kerupuk yang renyah dan gurih ternyata sudah tersebar hingga mancanegara dan diterima oleh lidah-lidah Asia, Eropa, hingga Amerika. Terbangnya kerupuk ke mancanegara berdampak pada meningkatnya devisa dari ekspor kerupuk. Permintaan kerupuk produksi Indonesia di luar negeri meningkat setiap tahunnya, dan sampai pada angka yang cukup mencengangkan.

Sebagai makanan asli produk Indonesia, kerupuk jelas memiliki ciri khas yang menarik dan nilai jual yang pasarnya masih terbuka lebar. PT Sekar Laut misalnya, produsen kerupuk yang berada di Jawa Timur ini mampu mengekspor 250 – 300 ton kerupuk dari total produksinya yang mencapai 700 ton per bulan. 250 – 300 ton tersebut diekspor ke sejumlah negara di Asia dan Eropa. Jawa Timur dikenal sebagai pengekspor kerupuk tertinggi dibandingkan dengan beberapa provinsi lainnya. Ekspor kerupuk dari Jawa Timur mencapai 79 persen dari total kerupuk udang di seluruh Indonesia. Luar biasa...

Keuntungan dari kerupuk tidak hanya dinikmati oleh perusahaan besar sekelas perusahaan di Jawa Timur. Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ternyata juga kecipratan uang dari gurihnya rasa kerupuk Indonesia. Seperti UKM asal Batam yang sudah menembus pasar Singapura melalui kerupuk ‘Gonggong’nya, UKM penghasil kerupuk asal Tangerang yang sudah berhasil menembus ke China, sampai pengusaha kerupuk asal Mataram yang berhasil menerbangkan kerupuknya hingga Arab Saudi. Memang, harganya yang cenderung terjangkau membuatnya mudah dinikmati oleh semua kalangan baik dalam maupun luar negeri.

Beruntunglah Anda yang tinggal di Indonesia. Anda tidak perlu repot-repot menerbangkan kerupuk menyebrangi laut jauh-jauh hanya untuk mencicipinya, karena Indonesia sendiri merupakan negara penghasil kerupuk. Kerupuk bisa Anda temui di beragam tempat makan, warung, bahkan restoran dengan sangat mudah. Kalau perlu, Anda bisa menggoreng kerupuk sendiri di rumah untuk dijadikan cemilan dan teman beraktivitas. Bila Anda malas keluar membeli kerupuk? Saya punya kenalan yang bisa menyediakan Kerupuk Ikan Gabus khas Palembang untuk dikirim ke rumah Anda. Tinggal klik link ini  maka Anda bisa melihat detail dan memesan kerupuk itu secara langsung tanpa harus beranjak dari rumah Anda. Kres!! Selamat menikmati!

No comments:

Post a Comment