Friday, December 6, 2013

Muhammad Yunus, Wirausahawan Sosial, Pahlawan Fakir Miskin



Tulisan saya kali ini sedikit menyambung dengan tulisan saya sebelumnya mengenai socialentrepreneurship . Kali ini saya ingin membahas lebih detail mengenai Muhammad Yunus, salah satu tokoh social entrepreneur yang saya kagumi.

Kalau boleh dikatakan, tak banyak hal yang membedakan Muhammad Yunus, penerima Nobel Perdamaian 2006, dengan penyalur pinjaman kebanyakan. Hanya saja, ia berani mempercayai orang-orang yang kurang beruntung. Ia mempercayai bahwa seseorang menjadi melarat akibat dirinya tidak memiliki akses yang dibutuhkan untuk memberdayakan diri, bukan karena dia tidak memiliki kemampuan atau kapasitas.
“Fakir miskin sendiri dapat menciptakan dunia yang bebas kemelaratan. Apa yang perlu kita lakukan hanyalah membebaskan mereka dari rantai yang kita kalungkan kepada mereka,” ujar Yunus.

Yunus sendirilah yang kemudian membuktikan kebenaran keyakinannya itu. Grameen Bank, bank yang dirintis Yunus untuk kelompok miskin, mencatat tingkat pengembalian kredit mikro hingga 95-98 persen, angka yang belum pernah dicapai oleh pinjaman perbankan konvensional. Grameen Bank menyediakan bantuan keuangan bagi 7,3 juta keluarga—3,2 juta di antaranya keluarga miskin—di Bangladesh. Bank ini juga mengundang perhatian internasional, sampai-sampai investasi di keuangan mikro Bangladesh meningkat 300 persen antara 2002-2004.

Muhammad Yunus


Berbeda dengan upaya pengentasan kemiskinan sebelum-sebelumnya yang berorientasi mengulurkan santunan kepada kelompok miskin, bagi Yunus, yang terlahir sebagai anak ketiga dari sembilan bersaudara dalam sebuah keluarga muslim, mengeluarkan fakir miskin dari persoalan kemiskinan melalui jalur bisnis. Dia menghindari pemberian santunan langsung karena hal ini akan membuat lapisan masyarakat miskin ini terlalu bergantung pada orang lain. Oleh karena itu, yang ia berikan “hanyalah” fasilitas yang dapat membuat mereka mandiri secara finansial.

“Bisnis adalah cara yang sangat indah untuk menuntaskan persoalan,” ujarnya di sebuah seminar yang terdiri dari para bankir. “Hanya saja kita tidak pernah menggunakannya untuk tujuan tersebut. Kita hanya menggunakannya untuk mencetak uang. Bisnis, akibatnya, sebatas memuaskan kepentingan pribadi dan bukannya kepentingan bersama.”

Fakta lainnya yang juga mengejutkan, 95% dari nasabah Grameen Bank sejak bank ini mulai beroperasi pada 1983 adalah wanita. Di Bangladesh, negeri asal Yunus, wanita berada pada kedudukan sosial yang lemah dan rentan. Mereka digaji lebih rendah ketimbang lelaki dan berbagai produk hukum, sebagai contoh undang-undang pernikahan dan perceraiannya, mendiskriminasi wanita di mana mereka tidak memiliki hak sama sekali atas harta keluarga.

Dengan memberikan pinjaman dan kesempatan bagi mereka untuk membuka usaha, bekerja, serta memberdayakan dirinya, Yunus telah melakukan lebih dari sekadar mengembangkan perekonomian negaranya atau membuka lahan usaha bagi banknya. Ia, lewat bentuk perjuangannya sendiri, telah menegakkan keadilan bagi para wanita yang termarjinalisasi di negerinya.

 
Saat ini Yunus yang sudah berusia 73 tahun masih aktif memberikan kuliah mengenai kewirausahaan sosial di berbagai belahan dunia serta mengembangkan sayap-sayap bisnis sosial dari Grameen Bank. Sebagai contoh, bekerja sama dengan Danone ia mencoba memproduksi yoghurt yang terjangkau sekaligus dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat miskin. Di bawah naungannya pula, Yayasan Grameen memproduksi Grameenphone yang membantu masyarakat desa miskin untuk berkomunikasi.

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil contoh bahwa para pengusaha juga punya tanggung jawab terhadap lingkungan atau masyarakat di sekitarnya. Janganlah menjadi entrepreneur yang hanya mengejar profit. Pengusaha yang baik adalah pengusaha yang juga berkontribusi terhadap kehidupan sesamanya.

Note:
Kalimat penutup yang bersifat motifasi belum ada. Silakan ditambahakan.

No comments:

Post a Comment