Thursday, December 5, 2013

UKM, Tonggak Perekonomian Jepang



Dikenal dengan Honda, Toshiba, Yamaha, dan Sony, Anda mungkin mengira perekonomian Jepang disangga oleh perusahaan-perusahaan raksasa kaliber dunia dengan modal yang luar biasa besarnya. Entah berapa persen uang yang kita keluarkan untuk produk-produk Jepang karena kepopuleran dan kualitasnya, mulai dari produk elektronik sampai ke produk otomotif dengan teknologi mutakhir. Yang pasti, uang dalam jumlah yang sangat besar mengalir setiap tahun ke Jepang melalui bisnis-bisnis besar ini.

Tapi kenyataannya, dan saya juga baru mengetahuinya, uang di Jepang tidak berputar di  Tokyo. Pusat bisnis-bisnis besar itu bermarkas melainkan di daerah Kansai, Osaka, Kyoto, Wakayama, Narama, Kobe, dan lain-lainnya. Tepatnya, di antara jutaan UKM yang menjadi fondasi perekonomian Negeri Matahari Terbit ini.

Menurut data PPI Jepang, jumlah UKM di Jepang sendiri ternyata mencapai tak kurang dari 4,69 juta dibandingkan dengan perusahaan besarnya yang hanya 13 ribu. Tak kurang pula UKM mempekerjakan 29,96 juta warga atau 70,2 persen dari keseluruhan pekerja Jepang. Bandingkan lagi dengan perusahaan besar yang mempekerjakan 13,71 juta warga sisanya atau 30,5 persen dari pekerja Jepang. UKM juga terbukti efektif dan menjadi salah satu ujung tombak dalam menurunkan angka pengangguran di Jepang, yang sempat naik menjadi 5,5% di tahun 2009. Kini angka tersebut sudah turun kembali di angka 3,9%. 

Kontribusi UKM di Jepang



Tak heran, karenanya, mengutip Richard Susilo dalam tulisannya di Tribunnews (27/01), pada saat krisis finansial melanda Asia tahun 1997, Jepang dapat bertahan. Sebagaimana yang kita tahu, pasar utama produk-produk Jepang adalah Asia Tenggara. Sementara saat itu Thailand terpuruk dan Indonesia, lebih-lebih lagi, berlanjut mengalami krisis politik berlarut-larut. Bertahannya Jepang pada saat perusahaan-perusahaan besarnya terpukul membuktikan bahwa mereka memiliki fondasi perekonomian yang ditopang tak lain oleh UKM.

Memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya UKM bagi stabilitas negaranya, pemerintah Jepang lewat bank-bank negaranya rutin menyalurkan pembiayaan untuk pengembangan usaha-usaha kecil menengah ini. Namun tak berhenti di situ. Selain perkembangannya dijamin oleh sokongan negara dan didorong oleh sifat wirausahawan Jepang yang gigih serta pantang menyerah, perusahaan-perusahaan besar membantu membangun iklim yang kondusif untuk bertumbuhnya UKM.

UKM menjadi mitra perusahaan-perusahaan besar sebagai penyedia komponen produksi mereka. Sebagai misal, busi kendaraan produksi Nippon Denso tak lain didapat dari UKM binaan dari Nippon Denso sendiri. Dengan demikian, berbeda dengan pola di berbagai negara di mana perusahaan besar kerap menjadi predator bagi usaha-usaha menengah dan kecil, terjalin satu simbiosis mutualisme yang saling mengisi.


Hmmm, melihat Jepang dengan kesadaran bersamanya—di antara aktor negara, perusahaan, maupun pelaku UKM itu sendiri—yang begitu tinggi untuk menumbuhkan UKM, pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memberikan perhatian sepantasnya pada sektor yang juga menyelamatkan perekonomian Indonesia dalam krisis 1997 itu?

Kalau belum, tentu disayangkan sekali.

No comments:

Post a Comment